Di beberapa daerah di Indonesia PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sudah mencapai level satu. Artinya sudah lebih kondusif untuk masyarakat melakukan mobilitas seperti biasa dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat.

Untuk mencegah penyebaran virus covid 19 yang bisa menimbulkan gelombang ke-3 maka pemerintah memberlakukan syarat bagi pelaku perjalanan. Salah satunya adalah dengan melakukan tes PCR kemudian diubah lagi boleh dengan tes antigen untuk jarak tertentu.

Peraturan yang berubah-ubah membuat warga masyarakat bingung dan masih menunggu ketetapan terbaru. Lalu bagaimana sebenarnya efektivitas PCR dan Antigen untuk perjalanan domestik saat ini?

Tes PCR atau Antigen?

 

Mengangkat tema yang sedang marak menjadi perbincangan di kalangan masyarakat suara KBR membahasnya melalui siaran radio dan di kanal YouTube Suara KBR 10 November 2021. Dua orang narasumber memberi pandangan tentang PCR dan Antigen Sebagai Syarat Perjalanan. dr. Pandu Riono, MPH. Ph.D seorang Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan Dicky Palupessy, Ph.D Kolabolator Ilmuwan Lapor Covid – 19 & Ketua Lab. Intervensi Krisis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Menurut Professor Dicky untuk melakukan perjalanan domestik bagi orang yang sudah divaksin sebanyak 2 kali cukup dengan tes antigen saja. Kenapa? Karena yang dibutuhkan dari mobilitas masyarakat adalah screening, dan Antigen sudah cukup untuk mengetahui kondisi pelaku perjalanan saat itu, oleh karenanya fungsi screening sudah terpenuhi. Sementara untuk PCR dapat digunakan sebagai dasar diagnose lanjutan.

Pertimbangan Biaya dan Waktu Tunggu Hasil

Selain kebutuhan screening waktu tunggu hasil dan biaya yang dikeluarkan masyarakat juga menjadi pertimbangan.  Tes Antigen lebih murah dan hanya sebentar sudah bisa diketahui hasilnya. Sementara PCR mahal dan membutuhkan waktu tunggu yang lebih lama.

Sementara menurut Profesor Pandu Antigen dan PCR tersebut adalah metode yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus c SARS-Cov-2. Tes PCR memungkinkan untuk mengetahui keberadaa virus karena metodenya memadai. Proses amplifikasi menggunakan teknologi yang mahal dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian khusus dan laboratorium yang sesuai standar, itulah kenapa biayanya jadi tinggi.

Jika dipaksakan menggunakan tes PCR untuk setiap kali perjalanan masyarakat yang merasa keberatan dan peraturan yang berubah-ubah justru bisa memicu sikap abai. Padahal hal inilah yang bisa menyebabkan penyebaran virus menjadi tidak terkendali.

Tes antigen lebih mudah dilakukan karena hanya mengambil sampel untuk pemeriksaan protein virus saja. Jika keberedaan virus banyak terkumpul maka dapat dipastikan adanya infeksi virus corona tersebut. Hal ini dapat membantu untuk mengetahui kondisi seseorang sedang dalam tahap menularkan. Biaya yang dikeluarkan juga menjadi lebih murah sehingga tidak memberatkan pelaku perjalan.

 

Peraturan Pemerintah yang Pro Rakyat dan Sesuai Kebutuhan

Dari pembahasan tentang PCR dan Antigen Sebagai Syarat Perjalanan dapat disimpulkan bahwa selain melakukan tes screening bagi pelaku perjalanan domestik ada hal lain yang kebih penting untuk dilakukan sebagai bagian dari 3T (Test, Tracing, and Treatment) untuk pengendalian pandemi yaitu vaksinasi dan protocol kesehatan yang terus dijalanjan secara benar.

Jadikan prokotol kesehatan 5 M sebagai bagian kehidupan sehari-hari di era pandemi.

Mencuci Tangan

Menggunakan Masker

Menjaga Jarak

Menjauhi Kerumunan

Mengurangi Mobilitas

Dengan memasyarakatkan protokol kesehatan sebagai bagian kehidupan maka penyebaran virus dapat terkendali. Meski saat ini mobilitas masyarakat sudah mulai meningkat namun dengan kebiasaan 3 M yang telah melekat akan mencegah penyebaran virus secara masiv.

Peraturan pemerintah terkait palaku perjalanan sebaiknya pro rakyat dalam arti memudahkan dilakukan dan harganya murah sehingga tidak semakin memberatkan masyarakat. Kemudian pemerintah juga wajib memastikan laboratorium yang ditunjuk melakukan tes telah tervalidasi dan dapat dipercaya sehingga data yang dihasilkan bisa menjadi acuan saat muncul kebutuhan untuk Tracing.

Masyarakat dan pemerintah sudah waktunya saling berkolaborasi untuk melalui masa pandemi ini. Dukungan peraturan yang tidak berubah-ubah dan menyulitkan masyarakat akan membuat kepercayaan kepada pemerintah meningkat dan masyarakat akan mematuhi dengan senang hati.

 

Salam

Eka Murti

1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like