Stigma negatif pada penyandang kusta telah lama menjadi masalah yang merugikan dan menghancurkan kehidupan mereka. Apalagi jika penderita kusta adalah perempuan maka stigma tersebut akan semakin berat. Seperti kita ketahui di masyarakat wanita dituntut untuk memiliki tampilan fisik sempurna. Sementara kusta adalah penyakit menular dan bisa mengakibatkan cacat.

Apa itu Kusta?

Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini memang menular namun bisa disembuhkan. Penularannya pun tidak dengan cepat dan mudah.

Tanda -tanda Orang Terkena kusta

Masih banyak masyarakat yang belum paham kalau dirinya atau orang disekitarnya menderita Kusta. Karena tanda awalnya tidak tiba-tiba berupa kecacatan pada bagian tubuh.

Tanda ini sering kali dianggap sepele sampai kondisinya menjadi memburuk.

  • Bercak kulit yang mati rasa.
  • Penebalan saraf yang disertai gangguan fungsi.
  • Melalui pemeriksaan laboratorium.

Kuman kusta terutama menyerang kulit dan saraf tepi.

Cara Penularan Kusta

Penularan terjadi dari orang yang sedang mengalami kusta yang tidak diobati ke orang sehat melalui pernapasan atau kontak langsung yang erat dan lama.

Buruknya pola hidup yang tidak higienis memperburuk kondisi. Kusta juga bisa menular pada orang dengan imun tubuh yang lemah.

Kusta tidak menular melalui cara:

  • Bersalaman
  • Pelukan
  • Makan bersama
  • Tinggal / kerja bersama
  • Pakaian

Stigma Negatif yang Merugikan

Menurut Kementerian Kesehatan RI tahun 2014, laki-laki cenderung lebih sering terserang penyakit infeksi dibanding wanita.

Meskipun kusta merupakan penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan, stigma yang melekat pada penyakit ini tetap berlanjut, terutama bagi perempuan yang terkena kusta. Stigma ini tidak hanya mempengaruhi kehidupan mereka secara sosial, tetapi juga secara ekonomi dan emosional.

Dampak Buruk Stigma Negatif

Perempuan yang menderita kusta akan mendapatkan stigma negatif dan bahkan diskriminasi lebih berat dari lingkungan. Tak jarang mereka diisolasi dari masyarakat. Kesempatan hidup menjadi berkurang karena dianggap tidak layak.

Ketidaktahuan dan ketakutan masyarakat terhadap penyakit kusta, yang sering kali disalahartikan sebagai penyakit yang menular dan tidak dapat disembuhkan. Bahkan di wilayah pedalaman penyakit kusta sering diidentikan dengan kutukan karena menyebabkan cacat dan tidak bisa disembuhkan.

Stigma negatif ini sangat merugikan. Secara emosional perempuan akan merasa rendah diri dan insecure. Menarik diri dari masyarakat atau menutupi penyakitnya hingga menjadi semakin parah. Padahal jika sejak dini mendapat pengobatan maka kecacatan atau disabilitas bisa dihindari.

Dampak dari stigma negatif ini sangat merugikan perempuan penyandang kusta. Mereka mengalami penurunan kualitas hidup, kehilangan harga diri, dan terjebak dalam siklus kemiskinan.

Siklus ini harus diputus agar perempuan yang menderita Kusta tidak merasa malu untuk memeriksakan diri dan mendapat pengobatan.

Yuliati, Wanita dan Kusta

Yuliati adalah salah seorang aktivis Permata (Perhimpunan Mandiri Kusta) Sulawesi Selatan. Sebagai seseorang yang pernah menderita Kusta merasakan bagaimana stigma negatif hampir menghancurkan hidupnya.

Kisahnya diceritakan pada acara talk show Ruang Publik KBR bertema “Wanita dan Kusta”.

Awalnya dia tidak tahu kalau terkena kusta. Hanya ada bercak saja di kulit. Setelah diketahui kalau itu kusta Yuli menarik diri dari lingkungan. Meskipun keluarga mendukung tapi dia khawatir akan menularkan pada orang lain.

Selain itu secara emosional dia juga tertekan oleh stigma negatif yang beredar di masyarakat. Namun pada suatu hari dia bertemu dengan orang-orang yang pernah terkena kusta yang memiliki cacat. Sejak saat itu semangatnya bangkit dan membuatnya bergabung dengan Permata untuk membantu sebanyak mungkin perempuan penderita kusta untuk mendapatkan akses pengobatan.

Pendampingan dan edukasi dilakukan di lapangan dengan menghadapi berbagai tantangan. Kebanyakan justru dari penderita yang menutup diri. Selain bisa menyebabkan cacat jika tidak segera diobati juga bisa menularkan pada orang lain. Jika siklusnya tidak diputus maka akan sulit untuk membuat wilayah bebas kusta.

Edukasi bagi masyarakat bahwa kusta bisa disembuhkan masih harus terus dilakukan dimanapun di seluruh Indonesia. Menghilangkan stigna negatif memang tidak semudah membalik telapak tangan namun juga bukan hal yang mustahil jika dilakukan secara masiv.

Masyarakat perlu diberikan informasi yang akurat dan jelas tentang penyakit ini, termasuk fakta bahwa kusta dapat diobati dan disembuhkan.

Perlu ada upaya untuk mengubah persepsi dan sikap masyarakat terhadap perempuan penyandang kusta melalui kampanye kesadaran dan advokasi yang melibatkan masyarakat secara luas. Seperti yang dilakukan Yuli sebagai salah seorang penyandang kusta memberi edukasi melalui pengalamannya. Dengan demikian masyarakat akan lebih mudah menerima bahwa penyakit ini memang bisa disembuhkan sejak timbul gejala awal.

Hal penting lainnya adalah menyediakan akses yang mudah dan terjangkau ke layanan kesehatan yang diperlukan oleh perempuan penyandang kusta. Ini termasuk akses ke perawatan medis, rehabilitasi fisik, dan dukungan psikologis.

 

Stop Siklus Penyebaran Kusta

Stigma negatif pada perempuan penyandang kusta merupakan masalah serius yang perlu ditangani. Stigma ini tidak hanya merugikan perempuan itu sendiri, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.

Pemahaman bahwa kusta bisa diobati dan disembuhkan akan mengubah prasangka negatif yang beredar selama ini. Jika stigma negatif berkurang maka perempuan penyandang kusta memiliki kesempatan untuk hidup dengan bermartabat seperti orang lain.

 

Salam,

Eka Murti

 

 

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like