Stereotip masyarakat terhadap penderita kusta masih banyak yang negatif. Mereka dikucilkan, dianggap membawa penyakit kutukan. Memang beberapa penderita kusta yang sudah parah bisa mengalami disabilitas akan tetapi jika dilakukan pengobatan sedini mungkin maka hal itu bisa dicegah.

Kenali Kusta dengan Lebih Baik

Secara sadar atau tidak saat berpapasan dengan penderita kusta orang langsung menjauh. Alasannya takut tertular. Apakah memang semudah itu penularan kusta?

Apa itu Kusta?

 

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Itulah kenapa kadang orang menyebut penyakit ini Lepra.

Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh kbr.id (Kantor Berita Radio) bersama NLR Indonesia (Organisasi non-pemerintah untuk pemberantasan kusta) dibahas permasalahan seputar kusta dan pencegahannya.

Webinar yang bertema “Dinamika Perawatan Diri dan Pencegahan Disabilitas Kusta di Lapangan” ini menghadirkan narasumber dr. W Riby Machmoed MPH ( Technical Advisor Program Leprosy Control, NLR Indonesia) dan Sierli Natar, SKep ( Wasor TB/Kusta Dinas Kesehatan Kota Makasar).

Bagaimana Kusta Menyebar?

Menurut penjelasan dr Riby, kusta menular melalui percikan cairan dari saluran pernapasan (droplet) yang keluar saat batuk atau bersin.

Akan tetapi penularan itu pun tidak terjadinya seketika dengan cepat seperti pada influenza atau covid. Kontak dengan penderita harus cukup lama dan intens barulah penyakit kusta bisa menular.

Butuh waktu lama untuk bakteri Mycobacterium leprae berkembang biak. Bisa dibilang kusta merupakan penyakit menular yang tidak mudah menular. Bahkan pada beberapa kasus baru muncul setelah 20 tahunan.

Bahkan jika kita bersalaman dengan penderita Kusta tidak otomatis kita akan tertular. Pun duduk bersama, atau bahkan berhubungan seksual dengan penderita. Selain itu kusta juga tidak ditularkan oleh ibu kepada janinnya.

Keluarga yang serumah dan merawat pasien kusta juga tak perlu khawatir tertular. Mereka bisa mengkonsumsi obat untuk pencegahan, serta ikuti saran dokter dan tenaga kesehatan tentang penanganan pasien kusta.

Namun bukan berarti penyakit ini bisa dianggap sepele. Terlebih jika tidak segera diobati bisa mengakibatkan cacat permanen.

Gejala Kusta

Sangat penting untuk mengenali gejala kista sejak dini agar dapat ditangani dengan cepat. Karena jika penderita minum obat seusai anjuran dokter maka selain bisa disembuhkan juga bisa mencegah disabilitas kusta.

Jika melihat adanya lesi pucat, bercak keputihan pada kulit seperti panu yang menebal namun tidak gatal.

Selain itu mulai timbul mati rasa akibat kerusakan saraf biasanya terjadi di siku dan lutut. Jika menemukan kondisi seperti ini segera menghubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jika memang positif kusta lakukan pengobatan secara teratur dan sesuai petunjuk dokter. Jangan malas dan menyepelekan.

Apabila sudah terlanjur terjadi cacat kusta tetap bisa disembuhkan sementara cacatnya hanya bisa direhabilitasi untuk memperbaiki semaksimal mungkin dan mencegah menjadi lebih buruk.

Penanganan Disabilitas Kusta di Lapangan

Sementara itu ibu Sierli Natar, SKep ( Wasor TB/Kusta Dinas Kesehatan Kota Makasar) berbagai pengalaman mengenai penanganan pasien kusta di lapangan.

Mengedukasi pasien dan keluarga serta lingkungan untuk tidak memberi cap negatif terhadap penderita Kusta. Karena jika sudah sembuh pasien bisa beraktivitas seperti biasa.

Memberi semangat kepada pasien kusta pun dilakukan agar mereka tidak mengucilkan diri dan tetap semangat untuk berobat. Jangka waktu yang panjang untuk pengobatan kusta menyebabkan beberapa pasien merasa bosan atau putus asa. Disinilah tantangan di lapangan agar mereka terus mau berobat hingga sembuh.

Bagi penyandang kusta yang sudah sembuh tak boleh lengah, harus terus melakukan kontrol ke rumah sakit hingga benar-benar dinyatakan bersih. Seandainya terjadi kekambuhan bisa segera diketahui jika pasien kooperatif.

Kusta masih menjadi endemik di beberapa daerah di Indonesia. Tantangan memutus mata rantai penyelenggaraan kusta adalah menghilangkan stereotip negatif yang berkembang di masyarakat. Sehingga baik penderita, keluarga maupun lingkungan bisa bersikap kooperatif dalam penanganan penderita kusta.

Dengan demikian diharapkan penyelenggaraan kusta bisa terhenti. Disabilitas Kusta pun bisa bangkit dan kembali berkarya tanpa khawatir dipandang negatif atau bahkan dikucilkan masyarakat karena dianggap membawa penyakit kutukan.

 

Salam

 

 

 

 

 

 

 

69 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like